Hello and welcome.

pexels-photo-2

Panggil saya Budi. Manusia biasa yang memiliki “Complicated Life“. Ini adalah blog (personal) ketiga saya sejak memulai ngeblog tahun 2003.  Blog pertama menggunakan Blogdrive, kemudian tahun 2009 beralih ke platform Blogger milik Google. And for some reason, akhirnya saya membuat blog baru dengan platform dari WordPress.

Menanggalkan budhipedia.com, karena masa edarnya (domain) akan habis akhir tahun ini. Dan berhubung semua akun jejaring (id/user) saya telah berganti menjadi “kacamatabudi”, maka blog ini pun bernama sama.

Anda dapat menemukan saya setiap hari di @kacamatabudi. Jika saya tak ada di sana, mungkin saya sedang main PES, tarik kabel LAN, atau sedang main petak umpet. 🙂

Lets have some fun. Tabik!

indiepalu.com (kembali) mengudara.

indiepalulogo

indiepalutwit

Cuitan indiepalu kemarin menjadi penanda mereka mengudara kembali. “Mengudara” yang saya maksud adalah website mereka telah aktif kembali setelah hampir sebulan tidak aktif alias masuk gudang.  Sesuatu yang sudah masuk ke gudang, bisa aja dikeluarkan lagi jika diperlukan atau jika ingat. Tapi.. ya bisa juga terlupakan sama sekali.

Saya bersyukur untuk soal ini, webzine kesayangan anak muda kota Palu ini tidak bernasib sama seperti penonton.com yang masuk gudang kemudian terlupakan. Semoga saja webzine yang mempunyai misi mulia ini terus ada dan berumur panjang. 🙂

Awalnya webzine ini menggunakan platform Blogger dengan url indiepalu.com kemudian bermigrasi ke WordPress dengan alamat yang berbeda, indiepalu.co dan sekarang balik lagi menjadi indiepalu.com. Saya hakul yakin PR dan webzine ini pasti naik turun. 😀

Semoga saja dengan kembalinya mereka, jejak rekam scene musik kota Palu kembali terekam. Syukur-syukur bisa menjadi contoh buat manajemen band, bahwa dokumentasi band itu sangatlah penting di era sekarang.

Akhir kata, selamat menulis, merekam dan berkarya teman-teman.  You rock!

Website-Website Lokal Yang Masuk Gudang.

073788900_1445346072-startup_2

Sejak akses internet di Palu semakin mudah disertai dengan berkembangnya media sosial dan smartphone, maka lahirlah situs-situs (website) lokal, group, forum dan akun-akun publik yang berbau informasi mengenai kota Palu.

SoalPalu salah satu akun publik yang paling hits, diakui atau tidak sampai detik ini SoalPalu adalah salah satu akun publik dengan jumlah follower terbanyak, dibelakangnya ada InfoPalu. Keduanya menjadi akun publik yang menjadi rujukan netizen untuk menanyakan berbagai macam hal yang ada di Palu. Sayang saat ini kedua akun tersebut sudah tak lagi informatif, lebih fokus menjadi buzzer. (semoga pemilik kedua akun tersebut membaca ini dan marah-marah di kolom komentar).

Sebulan terakhir disela-sela jeda loading pekerjaan kantor, saya menyempatkan untuk browsing ke beberapa website lokal. Maaf, saya tak mau menyebut “web-startup”. Karena melihat konten, pola dan inovasi sepertinya masih jauh dari kategori startup. Dan, hasil nya ternyata sisa unikpalu.com dan sudutpandang.org yang masih aktif. Website lokal lainnya ternyata telah masuk gudang alias expired.

Continue reading “Website-Website Lokal Yang Masuk Gudang.”

Alasan kembali ke Facebook.

pexels-photo-199497

Medio Maret 2015 setelah memposting kelahiran Katya, anak pertama saya. saya memutuskan untuk menonaktifkan Facebook. Alasannya sederhana; mengontrol ruang privasi sendiri.

Alasannya lainnya adalah Facebook waktu itu terlalu bising, sesak, crowded dan keruh. Bukan sekedar antarmuka, tapi juga dari sisi konten.  Awal-awal agak berat dan cukup aneh. Rasa adiksi Facebook memang sulit untuk dihilangkan. Beruntung saya tidak masuk dalam level Facebook Syndrome, jadi tidak begitu mengganggu. Toh saya punya akun Twitter untuk sekedar meracau.

Di Twitter sebenarnya sama keruhnya, begitupun jejaring lainnya seperti Instagram dan Path. Namun di Twitter saya cukup pintar menggunakan fitur list dan mute yang disediakan oleh pengembang Twitter. Jadi gak sekeruh dan se-crowded linimasa Facebook.

Sejak pertengahan tahun kemarin mulai jarang ngetwit, dan udah gak kemaruk untuk sebentar-sebentar ngintip linimasa. Hasilnya, saya ternyata jadi lebih produktif. Demn!

Berawal dari tulisan-tulisan Daily Social dan Engadget mengenai jejaring Facebook, keinginan untuk login kembali semakin  membuncah. Akhirnya, kemarin siang saya balik lagi di halaman Facebook, mengganti foto profil, cover dan memposting satu foto sebagai penanda.

Ternyata jejaring Facebook telah banyak berbenah. First impression-nya adalah makin komplit, menurut saya. iya gak sih. Walaupun (isi) linimasanya masih tetep keruh, malah lebih keruh daripada yang saya kira, hoax, bot dan troll makin banyak bahkan meregenarasikan dirinya sendiri. Hufft. Continue reading “Alasan kembali ke Facebook.”

10 Album Musik Terbaik 2016.

woman-girl-technology-music

Menit-menit injury time pergantian tahun, dan RSI belum juga mengeluarkan list album musik Indonesia terbaik tahun ini. seperti tahun-tahun sebelumnya, artikel dari mereka memang selalu saya tunggu. RSI adalah salah satu referensi bacaan musik saya selama 4 tahun terakhir. Dari artikel mereka menyoal rilisan album-album terbaik Indonesia sepanjang tahun (terkadang) saya menemukan musik atau band baru yang tak masuk dalam radar, dan selalu menarik.

Arman Dhani mengatakan bahwa tahun 2016 ini adalah tahun brengsek. Ada benarnya sih, tahun ini adalah tahun di mana musisi senior banyak yang mangkat. David Bowie salah satu yang paling massive di bicarakan di linimasa. Kemudian band-band bagus banyak yang bubar, terbaru Banda Neira dan Cause.

Terlepas dari itu, 2016 menurut saya cukup memberi kesan yang baik dan menyegarkan. Armand Maulana, Anji, Ari Lasso hingga Andra and The Backbound merilis single tahun ini. Tulus, RAN dan mantan gebetan saya Raisa mewakili arus utama yang melahirkan album di 2016 ini. Musik non-mainstream atau musik “indie” independen malah lebih menjanjikan. Sepertinya scene musik indie benar-benar memamfaatkan tren musik digital.

Continue reading “10 Album Musik Terbaik 2016.”

Banda Neira Bubar.

banda-neira-bubar

Dini hari tadi, melalui akun official instagram mereka, Banda Neira pamit dan secara resmi menyatakan membubarkan diri.

Setelah menempuh diskusi yang panjang nyaris setahun lamanya, akhirnya kami sampai pada sebuah kesepakatan. Kami bersepakat untuk tidak meneruskan Banda Neira. . . Bukan hal yang mudah membubarkan Banda Neira, terlebih kini karya Banda Neira bukan hanya milik kami berdua, tapi juga milik kalian para pendengar. . . Namun keputusan sudah bulat. Setelah menimbang-nimbang semua kemungkinan, kami yakin dari semua opsi yang ada ini adalah keputusan paling baik. . . Dengan berat hati, melalui surat ini kami umumkan bahwa kami telah bersepakat untuk berpisah dan mengakhiri perjalanan Banda Neira. . . Kami meminta maaf sebesar-besarnya karena tidak bisa memenuhi harapan teman-teman yang ingin kami bisa terus bermusik bersama. . . Kami hanya bisa berterima kasih sebanyak-banyaknya buat semua pendengar juga teman-teman yang banyak berperan dalam perjalanan Banda Neira. Semoga segala apresiasi, dukungan, kehangatan dan pertemanan yang kami dapatkan dari teman-teman dibalas dengan kebahagiaan dan kebaikan yang berlimpah. . . Terima kasih telah menjadi bagian penting dalam hidup kami. Sebuah kenangan yang akan selalu mengiringi ke manapun kami melangkah selanjutnya. . . Salam, Ananda Badudu dan Rara Sekar 23 Desember 2016

A photo posted by Banda Neira (@bandaneira_official) on Dec 22, 2016 at 9:05am PST

Bunyi perpisahan dari Ananda Badudu dan Rasa Sekar berulang-ulang kembali saya baca. Saya pun membatalkan niat saya untuk melanjutkan tidur, sesekali bergumam kecil “2016 ini memang tahun brengsek“.

Menengok jam weker telah menunjukan pukul 3 pagi, siaran bola belum juga mulai. makin gusar, makin sedih. sedih karena belum sempat nonton aksi panggung mereka secara live, tapi mereka udah menyatakan bubar.

Akhir 2016 ini kehilangan banyak hal, kemudian tergantikan dengan hal-hal baru. Namun untuk duo Banda Neira, rasa-rasanya nggak ada gantinya. Dua album fisik mereka hanya akan menjadi perwakilan (menyuarakan) jiwa-jiwa nelangsa yang tak tersampaikan. Continue reading “Banda Neira Bubar.”