Hello and welcome.

pexels-photo-2

Panggil saya Budi. Manusia biasa yang memiliki “Complicated Life“. Ini adalah blog (personal) ketiga saya sejak memulai ngeblog tahun 2003.  Blog pertama menggunakan Blogdrive, kemudian tahun 2009 beralih ke platform Blogger milik Google. And for some reason, akhirnya saya membuat blog baru dengan platform dari WordPress.

Menanggalkan budhipedia.com, karena masa edarnya (domain) akan habis akhir tahun ini. Dan berhubung semua akun jejaring (id/user) saya telah berganti menjadi “kacamatabudi”, maka blog ini pun bernama sama.

Anda dapat menemukan saya setiap hari di Twitter dengan jenama akun @kacamatabudi. Jika saya tak ada di sana, mungkin saya sedang main PES, narik kabel LAN, atau sedang lelah. 🙂

Lets have some fun. Tabik!

Advertisements

13 Tahun Munir, Menuntut Keadilan Melawan Lupa.

Tribute: 13 tahun Munir

Al Araf, dari Imparsial: Munir adalah wajah otentik dari the voice of the voiceless. Semoga kita tidak lelah dalam memperjuangkan kasus Munir.

September 2004 tepat 13 tahun lalu, Munir Said Thalib seorang aktivis HAM, tewas diracun dalam perjalannya menuju negeri Belanda. Sudah 13 tahun berlalu, kasus Munir tak pernah selesai. Pemerintah tak pernah serius untuk kasus ini. Pelaku lapangan, Pollycarpus sudah bebas. Dalang intelektual tak benar-benar tersentuh.

Dinamika politik membuat kasus Munir seakan tak menemui titik terang, rumit. Kontras, saya, dan mungkin kalian yang setiap September menyuarakan kembali kasus kematian Munir, bersuara sama dengan Suciwati istri almarhum Munir, Meminta keseriusan Presiden. Tidak kurang tidak lebih.

Munir adalah ingatan “menolak lupa”, Munir tak pernah padam. Kami ada dan berlipat ganda.

***

Munir! Dia abadi bersama kita dalam sejarah, tentang keberanian, kejujuran, dan keadilan

 

Reuni kecil

Reuni Elkom Angkatan 2001
Dari kiri: Ikhsan, Ancha, Armin, Unggal, Saya, Indra. Amank juru foto.

Lisa M. Juliano, mahasiswa psikologi William Alanson White Institute, menyebut reuni sekolah dapat berfungsi sebagai sarana reparatif.

Bisa jadi benar. Bahwa reuni sebagai sarana refaratif, lebih dari sekedar temu-kangen. Reuni kecil kali ini diinisasi oleh Amank. Reuni kecil ini mungkin tak akan ada jika tak ada kabar dari kedatangan Akbar Tunggal ke Palu, sahabat kami yang sudah tinggal di Majene. Selayaknya tak ada asap jika tak ada api, Unggal menjadi semacam trigger untuk kami bertemu dan berkumpul, selayaknya masa sekolah.

Kita adalah generasi pertama yang dikepung oleh media digital, hampir setiap kesempatan libur panjang janjian bertemu melalui media sosial. Tapi akhirnya hanya berujung wacana. Realisasinya sekali dalam setahun saja belum tentu ketemu.

Seperti pertemuan yang sudah-sudah, obrolan ngalor-ngidul, update terkini soal pekerjaan, keluarga dan pencapaian. Kemudian obrolan bergeser kepada soal wacana. yang terakhir sepertinya obrolan paling berat. Untuk sementara kami simpan sembari menyusun kekuatan.

Menutup tulisan ini, saya ingin bilang bahwa reuni bukan saja sebagai sarana nostalgia, reuni juga bermanfaat sebagai sarana merenung dan memperbaiki diri termasuk mempertajam ingatan.

Yuk ah, sering-sering ngopi dan reuni, biar nda cepat pikun. 🙂

 

 

Sebuah kebiasaan

Pagi tadi saya baru saja menghapus 8 postingan diakun Instagram, apa pasal? Tidak penting, tidak menarik, dan nda Instagramable.

Alasan terakhir terlalu mengerikan sepertinya. tapi sadar tidak sadar, menghapus postingan di Instagram hampir pernah dilakukan semua pengguna Instagram, termasuk saya. Bahkan ada yang sudah meniatkannya, terbukti dengan adanya tagar #deletesoon. Entah apa motivasi orang macam ini.

Instagram adalah salah satu distraksi terbesar bagi setiap orang saat ini, terutama generasi milenial. Sarah Sechan mantan VJ MTV di era saya pernah mengutarakan soal ini. Dalam unggahan terakhirnya, keterangan yang ditulis dalam bahasa Inggris, merasa sudah banyak menghabiskan waktu mengunggah hal yang tidak perlu. Sehingga ia perlu memperbaiki hidupnya dengan lebih banyak berinteraksi dan memperhatikan orang-orang terdekatnya.

Continue reading “Sebuah kebiasaan”

Indonesia Hitam-Putih

 

Benarkah kita mencintai Indonesia sepenuh jiwa-raga tatkala kehidupan kebangsaan saat ini sarat tarikan kepentingan yang serba niscaya? Manakala di antara komponen bangsa dengan gampang mengumbar amarah di ranah publik hanya karena masalah praktis. Pertanyaan sederhana ini layak untuk direnungkan ketika segenap rakyat di negeri ini merayakan hari kemerdekaan Indonesia ke-72.

Fakta berbicara terbuka. Sekelompok orang bertepuk dada sebagai penjaga garda terdepan Indonesia. Berslogankan NKRI dan Pancasila harga mati. Namun begitu kepentingan sendiri terganggu, sertamerta menyebar kejengahan dan kangkuhan kolektif di ruang publik. Tak lupa menebar ancaman politik, tidak akan memberi dukungan dalam kontestasi politik 2019 kepada elite negeri yang tidak mengakomodasi kepentingannya.

Kelompok lain bersuara lantang. Siapa menolak PERPPU Ormas maka sama dengan anti-Pancasila, anti-NKRI. Sebaliknya mereka yang mendukung PERPPU berarti bela NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika. Sikap serba pilihan ganda itu digelorakan dengan fanatik buta seolah dunia keindonesiaan diambang kiamat.

Pihak lain melakukan politisasi yang sama. Menolak PERPPU berarti mendukung kelompoknya, sembari mengakapitalisasi posisi diri selaku korban politik kebijakan pemerintah. Lahirlah para hero baru, siapa melawan PERPPU dan anti-pemerintah sama dengan pejuang kebenaran sejati di Republik ini. Sebaliknya, mereka yang berada di seberang lain dianggap lemah dan sontoloyo.

Berbangsa dan bernegara menjadi hitam-putih. Saling bertabrakan keras. Masuk dalam pendulum ekstrem, kalau tidak A maka B. Bendera Indonesia yang berkibar di seluruh sudut negeri memang masih berwarna merah-putih dalam kesemerakkan yang tak tertandingi. Tetapi alam pikir, sikap, dan tindakan ber-Indonesia menjadi hitam-putih yang serba dangkal. Menjadi naif dan berkaca-mata kuda!

Continue reading “Indonesia Hitam-Putih”

indiepalu.com (kembali) mengudara.

indiepalulogo

indiepalutwit

Cuitan indiepalu kemarin menjadi penanda mereka mengudara kembali. “Mengudara” yang saya maksud adalah website mereka telah aktif kembali setelah hampir sebulan tidak aktif alias masuk gudang.  Sesuatu yang sudah masuk ke gudang, bisa aja dikeluarkan lagi jika diperlukan atau jika ingat. Tapi.. ya bisa juga terlupakan sama sekali.

Saya bersyukur untuk soal ini, webzine kesayangan anak muda kota Palu ini tidak bernasib sama seperti penonton.com yang masuk gudang kemudian terlupakan. Semoga saja webzine yang mempunyai misi mulia ini terus ada dan berumur panjang. 🙂

Awalnya webzine ini menggunakan platform Blogger dengan url indiepalu.com kemudian bermigrasi ke WordPress dengan alamat yang berbeda, indiepalu.co dan sekarang balik lagi menjadi indiepalu.com. Saya hakul yakin PR dan webzine ini pasti naik turun. 😀

Semoga saja dengan kembalinya mereka, jejak rekam scene musik kota Palu kembali terekam. Syukur-syukur bisa menjadi contoh buat manajemen band, bahwa dokumentasi band itu sangatlah penting di era sekarang.

Akhir kata, selamat menulis, merekam dan berkarya teman-teman.  You rock!