Alasan kembali ke Facebook.

pexels-photo-199497

Medio Maret 2015 setelah memposting kelahiran Katya, anak pertama saya. saya memutuskan untuk menonaktifkan Facebook. Alasannya sederhana; mengontrol ruang privasi sendiri.

Alasannya lainnya adalah Facebook waktu itu terlalu bising, sesak, crowded dan keruh. Bukan sekedar antarmuka, tapi juga dari sisi konten.Β  Awal-awal agak berat dan cukup aneh. Rasa adiksi Facebook memang sulit untuk dihilangkan. Beruntung saya tidak masuk dalam level Facebook Syndrome, jadi tidak begitu mengganggu. Toh saya punya akun Twitter untuk sekedar meracau.

Di Twitter sebenarnya sama keruhnya, begitupun jejaring lainnya seperti Instagram dan Path. Namun di Twitter saya cukup pintar menggunakan fitur list dan mute yang disediakan oleh pengembang Twitter. Jadi gak sekeruh dan se-crowded linimasa Facebook.

Sejak pertengahan tahun kemarin mulai jarang ngetwit, dan udah gak kemaruk untuk sebentar-sebentar ngintip linimasa. Hasilnya, saya ternyata jadi lebih produktif. Demn!

Berawal dari tulisan-tulisan Daily Social dan Engadget mengenai jejaring Facebook, keinginan untuk login kembali semakinΒ  membuncah. Akhirnya, kemarin siang saya balik lagi di halaman Facebook, mengganti foto profil, cover dan memposting satu foto sebagai penanda.

Ternyata jejaring Facebook telah banyak berbenah. First impression-nya adalah makin komplit, menurut saya. iya gak sih. Walaupun (isi) linimasanya masih tetep keruh, malah lebih keruh daripada yang saya kira, hoax, bot dan troll makin banyak bahkan meregenarasikan dirinya sendiri. Hufft.

Ini mukadimahnya udah terlalu panjang, padahal tulisan ini hanya ingin menuliskan alasan-alasan saya kembali (bermain) Facebook. hahaha

Ok. jadi yang kemarin bertanya-tanya, mungkin alasan-alasan ini cukup memberikan gambarannya.

Pertama: Penasaran sama fitur-fitur Facebook. Terutama sama Facebook Ads Campaign dan Facebook Afiliasi, karena mulai sekarang mau rajin jualan. πŸ˜€

Kedua: Nostalgia. inilah kelebihan Facebook yang tidak ada di akun media sosial lainnya. Saya seperti membuka album lama setelah login.

Ketiga: Menjaga dan merawat silaturahim. Harus diakui, sejak menonaktifkan akun Facebook, saya kehilangan kontak dan informasi apapun dari sahabat-sahabat (mutual friend) saya.

Keempat: populasi generasi milenial yang β€œalay” sudah berkurang. Jangan mendebat saya soal ini. πŸ˜›

Kelima: Pemberitahuan ulang tahun teman. Fitur notifikasi ini cukup membantu, pada dasarnya sih ini soal connecting people, point pentingnya komunikasi dan silaturahim. Bukankah dalam hadits disebutkan betapa pentingnya silaturahim dalam Islam, selain mempererat hubungan sesama, silaturahim juga bisa menambah rezeki, dan memanjangkan umur. Gak percaya? coba saja tanya ustadz Maulana. πŸ˜€

Terakhir; restoring my childhood happiness. Dan mungkin menagih hutang sama teman lama. hahaha..

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s