Reuni kecil

Reuni Elkom Angkatan 2001
Dari kiri: Ikhsan, Ancha, Armin, Unggal, Saya, Indra. Amank juru foto.

Lisa M. Juliano, mahasiswa psikologi William Alanson White Institute, menyebut reuni sekolah dapat berfungsi sebagai sarana reparatif.

Bisa jadi benar. Bahwa reuni sebagai sarana refaratif, lebih dari sekedar temu-kangen. Reuni kecil kali ini diinisasi oleh Amank. Reuni kecil ini mungkin tak akan ada jika tak ada kabar dari kedatangan Akbar Tunggal ke Palu, sahabat kami yang sudah tinggal di Majene. Selayaknya tak ada asap jika tak ada api, Unggal menjadi semacam trigger untuk kami bertemu dan berkumpul, selayaknya masa sekolah.

Kita adalah generasi pertama yang dikepung oleh media digital, hampir setiap kesempatan libur panjang janjian bertemu melalui media sosial. Tapi akhirnya hanya berujung wacana. Realisasinya sekali dalam setahun saja belum tentu ketemu.

Seperti pertemuan yang sudah-sudah, obrolan ngalor-ngidul, update terkini soal pekerjaan, keluarga dan pencapaian. Kemudian obrolan bergeser kepada soal wacana. yang terakhir sepertinya obrolan paling berat. Untuk sementara kami simpan sembari menyusun kekuatan.

Menutup tulisan ini, saya ingin bilang bahwa reuni bukan saja sebagai sarana nostalgia, reuni juga bermanfaat sebagai sarana merenung dan memperbaiki diri termasuk mempertajam ingatan.

Yuk ah, sering-sering ngopi dan reuni, biar nda cepat pikun. 🙂

 

 

Advertisements

Sebuah kebiasaan

Pagi tadi saya baru saja menghapus 8 postingan diakun Instagram, apa pasal? Tidak penting, tidak menarik, dan nda Instagramable.

Alasan terakhir terlalu mengerikan sepertinya. tapi sadar tidak sadar, menghapus postingan di Instagram hampir pernah dilakukan semua pengguna Instagram, termasuk saya. Bahkan ada yang sudah meniatkannya, terbukti dengan adanya tagar #deletesoon. Entah apa motivasi orang macam ini.

Instagram adalah salah satu distraksi terbesar bagi setiap orang saat ini, terutama generasi milenial. Sarah Sechan mantan VJ MTV di era saya pernah mengutarakan soal ini. Dalam unggahan terakhirnya, keterangan yang ditulis dalam bahasa Inggris, merasa sudah banyak menghabiskan waktu mengunggah hal yang tidak perlu. Sehingga ia perlu memperbaiki hidupnya dengan lebih banyak berinteraksi dan memperhatikan orang-orang terdekatnya.

Continue reading “Sebuah kebiasaan”