13 Tahun Munir, Menuntut Keadilan Melawan Lupa.

Tribute: 13 tahun Munir

Al Araf, dari Imparsial: Munir adalah wajah otentik dari the voice of the voiceless. Semoga kita tidak lelah dalam memperjuangkan kasus Munir.

September 2004 tepat 13 tahun lalu, Munir Said Thalib seorang aktivis HAM, tewas diracun dalam perjalannya menuju negeri Belanda. Sudah 13 tahun berlalu, kasus Munir tak pernah selesai. Pemerintah tak pernah serius untuk kasus ini. Pelaku lapangan, Pollycarpus sudah bebas. Dalang intelektual tak benar-benar tersentuh.

Dinamika politik membuat kasus Munir seakan tak menemui titik terang, rumit. Kontras, saya, dan mungkin kalian yang setiap September menyuarakan kembali kasus kematian Munir, bersuara sama dengan Suciwati istri almarhum Munir, Meminta keseriusan Presiden. Tidak kurang tidak lebih.

Munir adalah ingatan “menolak lupa”, Munir tak pernah padam. Kami ada dan berlipat ganda.

***

Munir! Dia abadi bersama kita dalam sejarah, tentang keberanian, kejujuran, dan keadilan

 

Advertisements

Reuni kecil

Reuni Elkom Angkatan 2001
Dari kiri: Ikhsan, Ancha, Armin, Unggal, Saya, Indra. Amank juru foto.

Lisa M. Juliano, mahasiswa psikologi William Alanson White Institute, menyebut reuni sekolah dapat berfungsi sebagai sarana reparatif.

Bisa jadi benar. Bahwa reuni sebagai sarana refaratif, lebih dari sekedar temu-kangen. Reuni kecil kali ini diinisasi oleh Amank. Reuni kecil ini mungkin tak akan ada jika tak ada kabar dari kedatangan Akbar Tunggal ke Palu, sahabat kami yang sudah tinggal di Majene. Selayaknya tak ada asap jika tak ada api, Unggal menjadi semacam trigger untuk kami bertemu dan berkumpul, selayaknya masa sekolah.

Kita adalah generasi pertama yang dikepung oleh media digital, hampir setiap kesempatan libur panjang janjian bertemu melalui media sosial. Tapi akhirnya hanya berujung wacana. Realisasinya sekali dalam setahun saja belum tentu ketemu.

Seperti pertemuan yang sudah-sudah, obrolan ngalor-ngidul, update terkini soal pekerjaan, keluarga dan pencapaian. Kemudian obrolan bergeser kepada soal wacana. yang terakhir sepertinya obrolan paling berat. Untuk sementara kami simpan sembari menyusun kekuatan.

Menutup tulisan ini, saya ingin bilang bahwa reuni bukan saja sebagai sarana nostalgia, reuni juga bermanfaat sebagai sarana merenung dan memperbaiki diri termasuk mempertajam ingatan.

Yuk ah, sering-sering ngopi dan reuni, biar nda cepat pikun. 🙂

 

 

Bacaan.

life-of-pix-free-stock-bar-wallpapers-window-leeroy-copy

Beberapa hari lalu sebuah postingan di instagram menohokku. Captionnya seperti ini “Beli buku tapi gak pernah dibaca itu dosa! feeling silly”. Dem.

Sejurus kemudian saya mencoba mengingat kapan terakhir saya (bener-bener) membaca buku, oh sudah lama ternyata. dan berakhir dengan merunut buku bacaan apa saja yang dibeli sepanjang tahun 2016. Sedikit sih untuk ukuran yang pernah jadi kutu buku. hahaha

Sejak konten digital semakin mudah didapatkan di internet, ada yang berubah dengan pilihan “membunuh waktu”. Buku (fisik) menjadi pilihan kesekian, ini opini saya loh. Dan kalau dulu sering menghabiskan waktu dengan membaca buku saat ini bisa jadi lebih banyak di depan layar monitor notebook atau tablet untuk membunuh kebosanan. Apakah kalian sama dengan saya? jika sama, angkat cangkir kopimu. tosh! Continue reading “Bacaan.”