Sebuah kebiasaan

Pagi tadi saya baru saja menghapus 8 postingan diakun Instagram, apa pasal? Tidak penting, tidak menarik, dan nda Instagramable.

Alasan terakhir terlalu mengerikan sepertinya. tapi sadar tidak sadar, menghapus postingan di Instagram hampir pernah dilakukan semua pengguna Instagram, termasuk saya. Bahkan ada yang sudah meniatkannya, terbukti dengan adanya tagar #deletesoon. Entah apa motivasi orang macam ini.

Instagram adalah salah satu distraksi terbesar bagi setiap orang saat ini, terutama generasi milenial. Sarah Sechan mantan VJ MTV di era saya pernah mengutarakan soal ini.ย Dalam unggahan terakhirnya, keterangan yang ditulis dalam bahasa Inggris, merasa sudah banyak menghabiskan waktu mengunggah hal yang tidak perlu. Sehingga ia perlu memperbaiki hidupnya dengan lebih banyak berinteraksi dan memperhatikan orang-orang terdekatnya.

Continue reading “Sebuah kebiasaan”

Advertisements

Alasan kembali ke Facebook.

pexels-photo-199497

Medio Maret 2015 setelah memposting kelahiran Katya, anak pertama saya. saya memutuskan untuk menonaktifkan Facebook. Alasannya sederhana; mengontrol ruang privasi sendiri.

Alasannya lainnya adalah Facebook waktu itu terlalu bising, sesak, crowded dan keruh. Bukan sekedar antarmuka, tapi juga dari sisi konten.ย  Awal-awal agak berat dan cukup aneh. Rasa adiksi Facebook memang sulit untuk dihilangkan. Beruntung saya tidak masuk dalam level Facebook Syndrome, jadi tidak begitu mengganggu. Toh saya punya akun Twitter untuk sekedar meracau.

Di Twitter sebenarnya sama keruhnya, begitupun jejaring lainnya seperti Instagram dan Path. Namun di Twitter saya cukup pintar menggunakan fitur list dan mute yang disediakan oleh pengembang Twitter. Jadi gak sekeruh dan se-crowded linimasa Facebook.

Sejak pertengahan tahun kemarin mulai jarang ngetwit, dan udah gak kemaruk untuk sebentar-sebentar ngintip linimasa. Hasilnya, saya ternyata jadi lebih produktif. Demn!

Berawal dari tulisan-tulisan Daily Social dan Engadget mengenai jejaring Facebook, keinginan untuk login kembali semakinย  membuncah. Akhirnya, kemarin siang saya balik lagi di halaman Facebook, mengganti foto profil, cover dan memposting satu foto sebagai penanda.

Ternyata jejaring Facebook telah banyak berbenah. First impression-nya adalah makin komplit, menurut saya. iya gak sih. Walaupun (isi) linimasanya masih tetep keruh, malah lebih keruh daripada yang saya kira, hoax, bot dan troll makin banyak bahkan meregenarasikan dirinya sendiri. Hufft. Continue reading “Alasan kembali ke Facebook.”